By Published On: 28 Mei 2024Categories: ArtikelDaily Views: 2Total Views: 4547

Guru diumpamakan sebagai petani dan murid bagaikan bibit yang disemai. Sebagai petani, pastinya mengharapkan benih yang disemai dapat tumbuh dan berkembang hingga nantinya menghasilkan buah yang baik. Petani akan terus mengusahakan pertumbuhan tanaman seperti mencabut rumput, menggemburkan tanah, memberi pupuk, disiram, dan perawatan lainnya. Demikian halnya dalam pendidikan, guru berperan menuntun dan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi murid dalam belajar. Menuntun murid dalam kodratnya dan memberikan ruang bagi murid mengembangkan potensinya sehingga berkembang dengan optimal. Harapannya, murid dapat belajar optimal melalui pembelajaran yang holistik dan memerdekakan di kelas. Pembelajaran yang bermakna dan berpusat pada kebutuhan belajar murid adalah tujuan penting yang diharapkan oleh pendidik.

Namun, seringkali pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara yang sama ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan belajar murid yang beragam. Dampaknya adalah murid yang mudah menerima pembelajaran menjadi tidak tertantang sedangkan murid yang masih perlu bimbingan tidak mendapatkan bimbingan yang optimal. Di satu sisi, murid SD dalam tahap berpikir konkret membutuhkan objek nyata yang memudahkan memahami pembelajaran. Dari permasalahan ini, mendorong saya memikirkan untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.

Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pertanyaan yang muncul adalah bila di kelas yang diajar ada 30 murid, apakah guru akan menerapkan 30 cara yang berbeda untuk mengajar mereka? Lalu, seperti apakah sebenarnya pembelajaran berdiferensiasi? Pembelajaran berdiferensiasi berkaitan dengan keputusan yang diambil guru yang berfokus pada kebutuhan belajar murid yang meliputi kesiapan belajar, minat, dan profil murid. Keputusan tersebut dapat berupa lingkungan belajar yang kondusif dengan memanfaatkan aset yang dimiliki sekolah dan mendorong murid berusaha sungguh-sungguh dalam proses belajarnya. Juga berkaitan dengan perencanaan pembelajaran sesuai kebutuhan murid, pemahaman murid tentang tujuan pembelajaran dan asesmen. Selain itu, penting memperhatikan manajemen kelas melalui penerapan disiplin positif agar pembelajaran berjalan kondusif.

Tahap awal yang bisa dilakukan adalah asesmen diagnostik kognitif dan nonkognitif untuk memetakan kebutuhan belajar murid. Asesmen diagnostik kognitif terkait kesiapan belajar murid. Contoh aspek kesiapan murid adalah apakah mereka masih membutuhkan berbagai contoh konkret atau sudah bisa masuk di konsep yang abstrak. Sedangkan asesmen diagnostik non kognitif terkait minat dan profil murid. Hal ini dapat dilakukan melalui observasi murid, pertanyaan, wawancara, dan lainnya. Diskusi dengan rekan guru yang mengajar di jenjang sebelumnya dan komunikasi dengan orang tua adalah hal yang penting untuk mengetahui perkembangan belajar dan profil murid. Selanjutnya, saya mengolah data yang ada untuk digunakan dalam merencanakan pembelajaran berdampak dan sesuai kebutuhan belajar murid.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan dengan pendekatan terhadap konten, proses, dan produk. Diferensiasi konten berkaitan dengan apa yang dipelajari murid. Hal ini dapat dilakukan dengan merancang pembelajaran berdasarkan kesiapan murid. Diferensiasi proses berkaitan dengan upaya yang dilakukan murid untuk memahami pembelajaran, dan diferensiasi produk berkaitan dengan hasil dari apa yang telah mereka pelajari.

Saya merancang pembelajaran terbalik (backward design) dan tahapan PBL (problem based learning). Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan pemantik yang mendorong keingintahuan murid dalam belajar. Murid diberikan kesempatan menyampaikan pendapat terhadap suatu topik, memahami tujuan pelajaran, dan asesmen yang akan dibuat. Selanjutnya, murid dibagi dalam kelompok secara heterogen untuk berdiskusi dan memecahkan masalah. Tujuan pembagian kelompok secara heterogen adalah mendorong murid yang mudah memahami pembelajaran untuk membantu teman kelompok yang masih kesulitan. Hal ini juga mampu membangun komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. .

Dalam mengerjakan tugas kelompok, murid diberikan kesempatan menggali informasi secara mendalam melalui literasi. Literasi dalam pembelajaran menggunakan buku atau artikel yang relevan dengan pembelajaran. Tugas yang telah diselesaikan murid dalam kelompok kemudian dibahas bersama. Murid diberikan ruang untuk memberikan tanggapan terhadap hasil jawaban murid lainnya dengan sopan. Murid juga melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Selain belajar di dalam kelas, murid juga melakukan pembelajaran di luar kelas. Pada kegiatan eksperimen, murid menggunakan google lens untuk menggali informasi yang diperlukan. Selanjutnya, murid membagikan informasi yang telah didapatkan melalui presentasi secara kelompok dan individu

Pembelajaran berdiferensiasi yang telah dilaksanakan membuat murid antusias dan terlibat secara aktif dalam belajar karena terfasilitasi sesuai kebutuhan belajarnya. Pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna sehingga dapat membangun pemahaman sepanjang hayat bagi murid. Rekan guru melihat mengungkapkan perubahan positif yang terlihat dari murid seperti murid berani mengungkapkan pendapat, kritis, kreatif, dan dapat berkolaborasi tanpa membeda-bedakan. Ini merupakan keterampilan abad 21 yang dapat dikembangkan oleh murid melalui pembelajaran berdiferensiasi.

Murid diberikan kesempatan untuk berpikir secara mendalam dan menemukan solusi melalui pengalaman belajarnya. Murid dapat memecahkan masalah, dan menampilkan produk secara kreatif. Disinilah terbangun kepemimpinan murid karena melibatkan suara, pilihan, dan kepemilikan murid. Respons positif juga disampaikan oleh orang tua karena murid lebih tekun dan bertanggung jawab dalam belajar. Murid yang mudah menerima pembelajaran tertantang untuk menggali informasi secara mendalam dan dapat membimbing teman yang kesulitan belajar. Murid yang kesulitan dalam belajar mendapatkan bimbingan dari guru dan temannya sehingga kelas menjadi kondusif untuk saling belajar.

Artikel ini ditulis oleh Abiatris Natalia, B.Ed.,S.Pd,Gr., Guru Penggerak Angkatan 6 Kota Manado, mengajar di SD Inpres 03 Paniki Bawah

Bagikan Sekarang