By Published On: 1 Maret 2024Categories: ArtikelDaily Views: 2Total Views: 7063

Pembelajaran yang dilakukan di sekolah sepatutnya perlu mengasah kemampuan literasi sains siswa. Literasi sains yang harus dikembangkan antara lain kemampuan dalam memahami, menafsirkan serta menggunakan informasi sains dalam kehidupan sehari-hari. Menurut OECD (Organization for Economic Co- operation and Development) dalam Kemendikbud 2017, secara umum literasi sains adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah yang berguna untuk melakukan sebuah identifikasi pertanyaan, menjelaskan fenomena ilmiah, memperoleh pengetahuan baru, dan juga mengambil kesimpulan berdasarkan fakta.

Literasi sains tidak hanya sebatas pengetahuan terhadap konsep sains tetapi dibutuhkan pemahaman terkait konsep yang dipelajari sehingga akan berpengaruh terhadap tindakan serta pola pikir dari seseorang terlebih khusus dalam memecahkan suatu masalah. Literasi sains dapat melatih kemampuan berpikir kritis dari siswa, kemampuan menganalisis, kemampuan bekerja sama atau kolaborasi dan juga komunikasi. Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaran yang mengembangkan kemampuan literasi akan menghubungkan konsep sains yang mencakup makhluk hidup beserta kehidupannya dalam memecahkan masalah. Oleh sebab itu literasi sains merupakan bagian dari keterampilan abad 21 yang harus dikuasai oleh siswa.

Di Indonesia tidak bisa dipungkiri bahwa kemampuan literasi sains siswa masih tergolong rendah. Meskipun hasil studi dari PISA tahun 2022 menyatakan bahwa Indonesia mengalami peningkatan dalam literasi, numerasi dan sains, namun pada kenyataannya dalam proses pembelajaran masih banyak siswa yang belum memiliki kemampuan tersebut. Literasi sains yang rendah menyebabkan kurangnya kecakapan peserta didik mengembangkan dan meningkatkan kemampuan kreatif dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan di kehidupan sehari-hari, kesulitan dalam pemecahan masalah, dan lambat menentukan serta mengambil keputusan. Dampak lain dari rendahnya literasi sains yaitu peserta didik kurang tanggap terhadap permasalahan dan perkembangan yang berkaitan dengan lingkungan sekitar, seperti fenomena alam dan karakteristik lokal daerah (Safrizal, dkk., 2019). Berdasarkan dampak-dampak tersebut, maka diperlukan analisis terhadap rendahnya kemampuan

literasi sains peserta didik di Indonesia berdasarkan hasil PISA dan berbagai faktor penyebabnya, sehingga dapat diketahui aspek apa saja yang perlu diperbaharui dan dibenahi pada pembelajaran sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.

Penyebab rendahnya literasi sains siswa diantaranya pengajar sains di Indonesia belum sepenuhnya memahami dengan baik tentang pembelajaran yang mengarah pada pembentukan literasi sains. Faktor berikutnya adalah pembelajaran yang bersifat tekstual dan kurang kontekstual atau kurang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari (Suastra 2005). Selain itu, metode pembelajaran yang guru berikan kurang efektif dalam menumbuhkan literasi sains siswa. Kurangnya kemampuan guru dan berinovasi dalam proses pembelajaran juga merupakan faktor penting dalam hal rendahnya literasi sains siswa.

Permasalahan di atas dapat diatasi dengan cara guru perlu membenahi proses pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan, model dan metode yang akan mempengaruhi pada kualitas konten, proses dan konteks dari pembelajaran yang dilakukan. Hal ini sejalan dengan dimensi dalam kurikulum merdeka yaitu dalam hal menciptakan pembelajaran yang berdiferensiasi. Melalui pembelajaran yang kreatif dan berkualitas akan mendorong siswa dalam membangun konsep siswa dengan sendirinya.

Fisika adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang mengkaji sifat- sifat materi dalam ruang dan waktu beserta konsep-konsep gaya dan energi terkait. Fisika mengkaji fenomena alam mulai dari skala atomik hingga jagat raya dengan menggunakan nalar ilmiah secara objektif dan kuantitatif yang terwujud dalam Memahami Capaian Pembelajaran Merumuskan tujuan pembelajaran Menyusun alur tujuan pembelajaran dari tujuan pembelajaran Merancang pembelajaran dan asesmen Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Fisika Fase E – Fase F untuk SMA/MA/Program Paket C 4 proses pengamatan, pengukuran, perancangan model hubungan antar variabel yang terlibat yang mencerminkan keteraturan alam, serta penarikan kesimpulan yang terwujud dalam suatu teori yang valid dan dapat diaplikasikan.

Sebagai ilmu yang mempelajari fenomena alam, fisika juga memberikan pelajaran yang baik kepada manusia untuk hidup selaras berdasarkan hukum alam serta mengelola sumber daya alam dan lingkungan dengan bijak. Pemahaman yang

baik tentang fisika mendukung upaya mitigasi dan pengurangan dampak bencana alam secara optimal. Pada proses pembelajaran fisika, peserta didik dilatih untuk melakukan penelitian sederhana mengenai fenomena alam. Peserta didik belajar menemukan permasalahan, membuat hipotesis, merancang percobaan sederhana, melakukan percobaan, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil percobaan baik secara tertulis maupun secara lisan. Dari proses pembelajaran fisika peserta dilatih untuk memiliki penalaran ilmiah, kemampuan berfikir kritis serta keterampilan memecahkan masalah yang semuanya sejalan dengan upaya pengembangan profil pelajar Pancasila yakni beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Proses pembelajaran Fisika yang dilakukan harus dapat menumbuhkan minat belajar siswa. Sehingga guru ditantang untuk mampu menciptakan pembelajaran yang aktif dan kreatif dengan menggunakan berbagai model maupun metode pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan belajar dan potensi dari setiap peserta didik. Dalam pembelajaran Fisika yang dilakukan di SMAN 1 Bitung, guru menggunakan berbagai metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap siswa. Metode STAR (Situation,Task,Action,Result) dilakukan oleh guru untuk dapat menentukan metode serta media pembelajaran yang tepat yang akan digunakan dalam pembelajaran.

Guru melakukan analisis terlebih dahulu berdasarkan situasi yang terjadi dalam kelas, selanjutnya tantangan atau kesulitan yang dihadapi dan harus diselesaikan untuk dapat mencapai tujuan atau mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya guru akan melakukan aksi sebagai upaya menyelesaikan tantangan yang dihadapi (membuat inovasi dalam pembelajaran, menggunakan berbagai metode atau model pembelajaran) dan langkah selanjutnya yaitu guru akan melakukan refleksi dari apa yang sudah dilakukan (dampak atau perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran).

Pada tahapan aksi dari metode STAR inilah guru dapat merancang pembelajaran yang menerapkan literasi digital. Adapun beberapa tahapan literasi sains yang dapat dilakukan yaitu:

  1. Tahap Kontak
    Pada tahap awal ini dikemukakan isu-isu atau masalah-masalah yang ada di masyarakat atau menggali berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar siswa yang dapat bersumber dari berita, artikel, atau pengalaman siswa sendiri. Topik tersebut kemudian dikaitkan dengan materi yang akan dipelajari. Dengan begitu siswa diharapkan menyadari pentingnya memahami materi tersebut.
  1. Tahap Kuriositi
    Pada tahap ini dikemukakan permasalahan berupa pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengundang rasa penasaran dan keingintahuan siswa. Pertanyaan ini berkaitan dengan isu atau masalah yang telah dibicarakan dan untuk mampu menjawabnya, siswa memerlukan pengetahuan dari materi yang akan dipelajari.
  1. Tahap Elaborasi
    Pada tahap ini dilakukan eksplorasi, pembentukan dan pemantapan konsep sampai pertanyaan pada tahap kuriositi dapat terjawab. Eksplorasi, pembentukan dan pemantapan konsep tersebut dapat dilakukan dengan berbagai metode, misalnya ceramah bermakna, diskusi dan kegiatan praktikum, atau gabungan dari ketiganya. Melalui kegiatan inilah berbagai kemampuan siswa akan tergali lebih dalam, baik aspek pengetahuan, keterampilan proses, maupun nilai dan sikap.
  1. Tahap Pengambilan Keputusan
    Pada tahap ini dilakukan pengambilan keputusan bersama dari permasalahan yang dimunculkan pada tahap kuriositi. Dengan begini, penyelesaian dan permasalhan yang muncul tersebut jelas dan benar-benar dapat dipahami oleh siswa tanpa ada keraguan.
  1. Tahap Nexus
    Pada tahap ini dilakukan proses pengambilan intisari (konsep dasar) dan materi yang   dipelajari,   kemudian    mengaplikasikannya    pada    konteks    yang lain (dekontekstualsasi), artinya masalah yang sama diberikan dalam konteks yang berbeda dimana memerlukan konsep pengetahuan yang sama untuk pemecahannya (Nentwig et al,. 2002). Tahap ini dilakukan agar pengetahuan yang diperoleh lebih aplikatif dan bermakna, tidak hanya di dalam konteks pembelajaran tetapi juga di luar konteks pembelajaran.
  1. Tahap Penilaian
    Pada tahap ini dilakukan penilaian pembelajaran secara keseluruhan yang berguna untuk menilai keberhasilan belajar siswa. Penilaian dilakukan bukan hanya untuk menilai aspek pengetahuan atau konten saja, tetapi juga aspek proses, aspek konteks aplikasi, dan aspek sikap sains.

Berdasarkan tahapan yang dilakukan, maka dalam pembelajaran Fisika guru akan banyak memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa melalui berbagai aktivitas yang melibatkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan juga sikap. Sebagai contoh, adanya proyek yang diberikan kepada peserta didik terkait materi Hukum Pascal dan Hukum Archimedes.

Gambar. 1 Aktivitas Belajar Siswa

Siswa akan melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Selain pembelajaran berbasis proyek, guru juga memanfaatkan media belajar seperti edugame dalam proses pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dengan sistem belajar yang selama ini terkesan monoton.

 

Gambar 2. Tampilan Edugame yang dikembangakan oleh guru

Guru juga memberikan banyak demonstrasi dan praktik agar siswa bisa memahami secara langsung konsep yang dipelajari melalui keterampilan masing-masing.

Artikel ini ditulis oleh Novianti Mien Laya, S.Pd, M.Ling.

Bagikan Sekarang