By Published On: 24 November 2023Categories: ArtikelDaily Views: 2Total Views: 8178

Pada dasarnya ada dua hal penting dalam penerapan Kurikulum Merdeka yaitu keleluasaan pendidik dalam melaksanakan pembelajaran dan pembelajaran berkualitas. Kurikulum Merdeka memiliki tiga karakteristik, yakni: (1) pengembangan soft skills dan karakter melalui proyek penguatan profil pelajar Pancasila; (2) fokus pada materi esensial; dan (3) pembelajarannya fleksibel atau memberikan keleluasaan bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai tahap capaian dan perkembangan masing-masing peserta didik sesuai konteks dan muatan lokal. Dalam Kurikulum Merdeka, materi pembelajaran dirancang agar lebih optimal, memberikan waktu yang cukup bagi peserta didik untuk memahami konsep dan mengembangkan kompetensi. Guru juga memiliki kebebasan dalam memilih berbagai perangkat pembelajaran sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik.

Menurut saya pada intinya tujuan dari Kurikulum Merdeka adalah merdeka mengajar bagi pendidik dan merdeka belajar bagi peserta didik. Pendidik leluasa melakukan pembelajaran sesuai tahapan capaian dan perkembangan peserta didik itulah merdeka mengajar, dan peserta didik belajar sesuai kebutuhan belajarnya itulah merdeka belajar. Oleh karena itu, guru atau pendidik adalah garda terdepan dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.

Dalam penerapan Kurikulum Merdeka, pembelajaran bagi peserta didik menjadi hal yang paling penting karena tujuan Kurikulum Merdeka adalah menciptakan pembelajaran yang berkualitas sesuai kebutuhan belajar peserta didik atau disebut pembelajaran berdiferensiasi. Guru atau pendidik sering menganggap bahwa pembelajaran yang dilakukan sudah yang paling baik bagi peserta didik namun nyatanya sering dijumpai pembelajaran yang katanya paling baik itu tidak menghasilkan pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan bagi peserta didik sehingga hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik tidak sesuai apa yang diharapkan oleh guru. Dalam Kurikulum Merdeka, guru perlu memahami lebih dalam tentang apa itu pembelajaran berdiferensiasi, bagaimana pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar peserta didik dan bagaimana penerapannya di kelas.

Dalam merancang pembelajaran yang berdiferensiasi, asesmen awal sangat penting dilakukan. Asesmen awal digunakan untuk memperoleh informasi tentang apa yang menjadi kebutuhan belajar peserta didik baik dari minat belajar mereka, profil belajar, kesiapan belajar maupun lingkungan belajar peserta didik. Asesmen yang diperoleh kemudian dianalisis dan dijadikan panduan sekaligus referensi untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi. Asesmen awal dapat dilakukan melalui beberapa metode seperti metode tes tertulis, metode diskusi kelompok, metode observasi atau pengamatan proses belajar peserta didik dan metode wawancara. Selain melakukan asesmen di awal pembelajaran, asesmen juga perlu dilakukan di dalam proses pembelajaran. Asesmen di dalam proses pembelajaran akan memberikan informasi tentang perkembangan peserta didik baik kekuatan maupun kelemahan mereka sehingga guru dapat memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran pada pertemuan selanjutnya dengan tetap mengakomodir kebutuhan belajar peserta didik.

Salah satu contoh penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran fisika yang saya lakukan adalah pembelajaran berdiferensiasi pada materi Gerak Parabola dengan tujuan pembelajaran peserta didik mampu menyelidiki pengaruh sudut elevasi terhadap jarak jangkauan maksimum benda. Pembelajaran berdiferensiasi saya rancang berdasarkan hasil asesmen awal peserta didik yang menunjukkan bahwa ada peserta didik yang memiliki gaya belajar kinestetik, ada yang visual, dan ada yang auditori. Pada aspek auditori, sebagian besar peserta didik memerlukan penjelasan guru agar lebih memahami materi yang diajarkan walaupun proses belajar mereka lakukan secara kinestetik ataupun secara visual. Selain itu, peserta didik juga menyukai pembelajaran fisika yang kontekstual yaitu mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Berdasarkan hasil asesmen ini saya merancang pembelajaran dengan dua model proses pembelajaran, yaitu pembelajaran dengan melakukan percobaan secara langsung untuk mengakomodir gaya belajar kinestetik-auditori, dan pembelajaran dengan melakukan percobaan secara virtual untuk mengakomodir gaya belajar visual-auditori. Kegiatan percobaan dilakukan mengikuti panduan dalam lembar kerja peserta didik (LKPD). LKPD saya buat dalam dua model untuk mengakomodir gaya belajar siswa. Untuk yang gaya belajarnya kinestetik-auditori saya menyiapkan lembar kerja peserta didik untuk mereka melakukan percobaan atau praktik secara langsung dengan alat dan bahan yang telah disiapkan dan untuk yang gaya belajarnya visual-auditori saya menyiapkan lembar kerja peserta didik untuk mereka melakukan percobaan secara virtual melalui aplikasi phet simulation.

Pada proses percobaan atau praktik secara langsung peserta didik menggunakan alat dan bahan seperti suntikan tinta, air, busur, dan meteran. Peserta didik kemudian melakukan percobaan sesuai langkah-langkah percobaan dalam lembar kerja peserta didik. Pada proses percobaan secara virtual peserta didik menggunakan aplikasi phet simulation dengan langkah-langkah percobaan sesuai yang ada pada lembar kerja peserta didik. Walaupun memiliki proses yang berbeda namun kedua percobaan tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu peserta didik menyelidiki pengaruh sudut elevasi terhadap jarak jangkauan maksimum yang ditempuh benda yang bergerak parabola. Dalam kegiatan percobaan baik secara langsung maupun melalui simulasi phet, peserta didik diminta mengganti sebanyak empat kali sudut elevasi. Mulai dari 25 derajat kemudian 30 derajat kemudian 45 derajat dan yang terakhir 60 derajat dengan kecepatan awal tetap dalam setiap sudut elevasi yang dipilih. Jarak jangkauan yang ditempuh dalam setiap sudut elevasi kemudian dicatat pada tabel hasil pengamatan yang ada pada lembar kerja peserta didik. Setelah selesai menuliskan hasil pengamatan peserta didik diminta menjawab beberapa pertanyaan dan memberikan kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan. Bagian penutup dari pembelajaran tersebut saya bersama peserta didik melakukan konfirmasi pemahaman terkait hasil percobaan yang telah dilakukan dan peserta didik memberikan kesimpulan dari pembelajaran yang dilakukan.

Setelah pembelajaran dilakukan, peserta didik memberikan umpan balik sebagai bahan refleksi bagi peserta didik dan bagi saya sebagai pendidik. Sebagai pendidik saya merasa puas dengan proses dan hasil pembelajaran yang telah dilakukan dan peserta didik senang serta mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, inilah merdeka mengajar bagi pendidik dan merdeka belajar bagi peserta didik dan inilah tujuan Kurikulum Merdeka, yaitu keleluasaan pendidik menciptakan pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didik. Harus selalu diingat bahwa setiap peserta didik memiliki kebutuhan belajar yang berbeda-beda baik dari aspek minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar. Oleh karena itu, guru harus memahami hal ini untuk menciptakan situasi pembelajaran yang berkualitas, menarik dan menyenangkan sehingga kebutuhan belajar murid terpenuhi dan tujuan pembelajaran bagi setiap murid tercapai. Pembelajaran berdiferensiasi adalah solusi pembelajaran berkualitas yang mengakomodasi kebutuhan belajar setiap peserta didik.

Artikel ini ditulis oleh Megawaty Elyna Magnolia Kumambong, S.Pd., Gr, Guru Penggerak Angkatan 4 Kabupaten Minahasa Selatan, SMA Negeri 1 Amurang

Bagikan Sekarang