By Published On: 25 Oktober 2023Categories: Artikel, Praktik BaikDaily Views: 1Total Views: 5720

Banyak hal yang melatarbelakangi, mengapa OTT “operasi tanpa tegang” perlu dilakukan dalam supervisi akademik seperti, guru kurang kesiapan mengajar, guru cenderung dicari kesalahannya, guru diajari apabila kurang, guru khawatir karena tidak saling kenal dengan yang melakukan supervisi, guru kurang percaya diri, dan kalaupun pada akhirnya ada persiapan guru maka yang terjadi adalah situasi berjalan tidak alamiah cenderung dibuat-dibuat oleh karena efek psikologi yang cukup panjang yang membuat kata “supervisi” menjadi sesuatu yang menakutkan. Hal-hal yang disebutkan kenyataanya juga pernah terjadi pada penulis, karena itulah ketika dipercaya mengemban kepercayaan sebagai kepala satuan pendidikan, penulis mencoba mencari alternatif yang bisa meminimalisir ketegangan saat menjalan tugas supervisi akademik.

Kalimat operasi tanpa tegang dipilih untuk perlahan menghilangkan stigma negatif supervisi pada seorang guru, operasi tanpa tegang ini juga diadopsi dari Platform Merdeka Mengajar pada topik supervisi akademik. Kemudian kata supervisi bila merujuk pada etimologi, berasal dari kata super dan vision, super berarti atas dan vision berarti penglihatan sehingga definisi supervisi adalah penglihatan dari atas. Pengertian itu merupakan arti kiasan yang menggambarkan suatu posisi yang melihat berkedudukan lebih tinggi daripada yang dilihat.

Definisi tersebut adalah rujukan formal yang memang harus dipahami sebagai pekerjaan profesional bagi guru khususnya bagi guru yang diberikan tugas tambahan sebagai kepala sekolah yang diamanatkan dalam Permendikbudristek Nomor 40 tahun 2021 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah, namun pada sisi yang lain juga harus dipahami dalam perlakuan supervisi terdapat prosedur yang perlu dilakukan agar guru dan kepala sekolah dimudahkan dalam prosesnya. Mc. Nerney, dalam bukunya Educational Supervision secara singkat mengungkapkan bahwa supervisi adalah prosedur memberi pengarahan atau petunjuk, dan mengadakan penilaian terhadap proses pengajaran.

Prosedur inilah yang dalam perjalanan penulis sebagai guru kadangkala terlupakan oleh sang supervisor, maka dalam ulasan ini akan diurai bagaimana operasi dalam supervisi itu tidak tegang atau terjadi pengurangan ketegangan, sebab penulis menyadari bahwa pada praktik baiknya stigma yang muncul terhadap kata supervisi butuh waktu untuk dihilangkan.

Pertama, praktik baik ini mencoba untuk mengakomodir sumber daya guru yang memiliki kompetensi dalam proses belajar yakni mereka yang sering membantu kepala sekolah dalam tugasnya baik sebagai wakil kepala sekolah yang juga sebagai pengajar praktik dan guru penggerak, serta guru yang memiliki kemampuan dan pengalaman mengajar yang baik. Oleh karena itu dibentuklah tim transformasi pembelajaran yang tujuannya adalah mendampingi para guru untuk memahami dan menerapkan kurikulum Merdeka di kelas dengan filosofofi Ki Hajar Dewantara yakni menghargai keberagaman setiap murid dengan melakukan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.

Kedua, tim berembuk menyusun rencana pendampingan, mulai dari pra observasi, observasi, dan pasca observasi. Tim harus memiliki kesamaan tujuan dalam supervisi, dalam rembuk inilah ditekankan supervisi harus berjalan tanpa tekanan dan tanpa ketegangan, tim harus sebisa mungkin melakukan pendekatan kepada guru agar kesiapan di kelas tidak berlebihan, tidak perlu takut, mengajarlah seperti biasa jika menyisipkan variasi bukan semata karena ada supervisi namun untuk kebutuhan murid. Pada bagian ini juga disusun pembagian pendampingan personalia tim dengan guru yang didampingi.

Ketiga, tahap pra observasi, pada bagian ini setiap personal dalam tim mencari guru yang didampingi dan melakukan disksusi kesiapan secara berkelompok ataupun perorangan, namun dalam praktik baik ini, setiap anggota tim memilih cara berkolompok agar guru yang diobservasi bisa berbagi rencana dan harapan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas dan yang lain mendapat referensi untuk pengembangan. Pada sesi pra observasi guru dan pendamping meyepakati jadwal, kemudian dikenalkan intrumen yang dipakai dalam supervisi dan para guru diberi kesempatan untuk mengemukakan bagaimana merancang pembelajaran selama ini dan apa saja yang pernah dilakukan untuk mengakomodir kebutuhan belajar murid, dan bagaimana rancangan pembelajaran yang nantinya digunakan, dengan demikian maka ada gambaran dan harapan yang terjadi saat pelaksanaan pembelajaran.

Keempat, tahap observasi, inilah tahap dimana anggota tim melakukan supervisi atau kami sebut dengan pendampingan kelas, seyogyanya biasanya pendampingan dilakukan pasca observasi namun untuk memberikan stigma positif terhadap kata supervisi maka kami ubah dengan kata pendampingan, pada tahapan ini tim saling mengingatkan agar dalam pendampingan kelas tugas pendamping bukan saja melihat gerak-gerak guru tetapi bisa juga sesekali membantu guru bila diperkukan, misalnya mendampingi peserta didik dalam pembentukan kelompok, atau mendampingi peserta didik dalam mengumpulkan informasi dalam kelompok, sehingga guru yang didampingi juga merasa terbantu dan tidak merasa sedang dilakukan supervisi.

Kelima, adalah pasca observasi, ada dua tahapan yang dilalui umpan balik dan pendampingan pengembangan, tahapan umpan balik ini dilakukan pendamping dengan guru saat setelah pendampingan, artinya tahapan ini harus segera dilakukan pada hari itu bukan menunda pada hari yang lain untuk memudahkan ingatan keduanya. Adapun teknik yang digunakan dalam sesi umpan balik ini adalah menggunakan teknik coaching FIRA (Fokus pada tujuan, Identifikasi (Gaps, Possibility, Solution), Rencana Aksi, Akuntabilitas). Pada sesi ini pendamping meng-coaching guru agar mampu mendefinisikan apa yang terjadi di kelas baik kekuatan dan kelemahan kemudian berupaya mengembangkan ide inovasi pada rencana aksi dan keduanya bersepakat memastikan bahwa ide terencana dengan baik dan dapat dilakukan.

Pendampingan pengembangan, dilakukan bersama dengan tim dan guru yang didampingi, pada tahapan ini pendamping dan guru melakukan refleksi bersama saling menguatkan, berbagi apa yang baik yagng sudah terjadi di kelas, dan apa yang berbeda dari sebelumnya, selanjutnya guru mengemukan ide ke depan untuk peningkatan. Tahapan ini juga menjadi tahapan yang penting karena sesama guru dan pendamping bisa saling menginspirasi dan memberi umpan balik. Gambaran setiap tahapan menyiratkan bahwa guru menikmati proses pendampingan dan berdasarkan umpan balik para guru mengemukakan bahwa supervise perlu dilakukan untuk mengembangkan kompetensinya.

Akhirnya operasi tanpa tegang ini tentu tidak serta merta selesai, tetapi ditindaklanjuti minimal dua atau tiga kali dalam satu semester dengan tahapan yang tersebut atau pula dengan inovasi strategi yang lebih baik ke depan. Diyakini bahwa dengan alur tahapan yang sama-sama disepakati oleh guru dan pendamping maka operasi tanpa tegang akan pelan-pelan mendepak paradigma bahwa supervisi itu menegangkan. Operasti tanpa tegang dapat terjadi bila ada kesiapan dan tahapan yang jelas, mudah dan variatif di lembaga satuan pendidikan yang tujuannya tak lain adalah mengembangkan kompetensi guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran bagi peserta didik.

Sumber Rujukan:

Praktik baik ini ditulis oleh Eka Candra Kahiking,S.Pd.,M.Pd.,Gr, Kepala SMP Negeri 1 Siau Timur, Penggerak Komunitas.

Bagikan Sekarang